Friday, April 25, 2008

REFLEKSI RELIGIOSITAS

Kepuasan adalah kunci untuk menikmati hidup

Pagi itu merupakan hari yang cerah bagi kami, matahari mengintip dengan malu-malu menciptakan suasana pagi hari yang syahdu. Kami memutuskan untuk mewawancara seorang petugas pengurus taman yang lebih lanjut diketahui bernama Bapak Anen Suhandi. Kami memutuskan memilih beliau untuk menjadi narasumber kami karena kami melihat beliau sebagai orang yang kurang mampu, ditilik dari pekerjaannya yang pada pagi itu sedang menyiram tanaman.

Setelah memperkenalkan diri, kamipun memulai tanya jawab kami dengan sedikit introduksi mengenai kehidupan di kota Jakarta yang semakin sulit. Seolah telah mengetahui arah pembicaraan kami, beliau segera memotong perkaaan kami dengan mengatakan bahwa beliau sangat menikmati pekerjaannya dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Seharusnya kami segera tahu bahwa beliau sama sekali tidak merasa kurang akan kebutuhan hidupnya dan agak-agak tidak nyambung dengan tema yang diberikan. Tapi, entah karena keramahan beliau atau pikiran beliau yang begitu tulus dan mengena, kami tetap bertahan untuk mewawancarai beliau.

Wawancara berlangsung santai, kami ikut berkeliling sembari menanyai sang narasumber yang sedang sibuk menyiram tanaman. Kami diberikan banyak sekali pengalaman berharga berjudul KEPUASAN HIDUP. Bapak Anen terus menekankan pentingnya menikmati dalam mencapai kepuasan. Singkat cerita, beliau selalu menekankan untuk para generasi muda untuk tetap berperilaku jujur, bertindak dengan didasari hati nurani dan sebisa mungkin jangan pernah melibatkan orang lain dalam setiap masalah yang kita hadapi. Menurut kami, orang-orang seperti beliau di zaman sekarang ini sudah selangka gigi ayam. Sayangnya, ketika berhadapan dengan beliau kami seolah kehabisan kata-kata, lidah kami menjadi kelu karena perkataan beliau yang dapat menjawab semua hal-hal yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh kami. Oleh sebab itulah, wawancara yang kami lakukan menjadi demikian singkatnya. Tetapi, dari sepotong waktu yang sangat singkat itulah kami dapat beroleh hal-hal yang sangat bermanfaat dalam kehidupan ini.

REFLEKSI : Korona x3/13
Nikmatilah Hidup Ini

Saya mewawancara seorang tukang kebun sekolah bernama Bapak Anen Suhandi. Selain menjadi tukang kebun di Santa Ursula, ia juga membantu mengantarkan makanan bagi guru-guru. Walaupun terlihat dari pekerjaannya ia seperti kurang mampu, tetapi melalui mimik wajah dan tutur katanya; ia malah terlihat seperti orang yang paling bahagia sedunia. Melihat penampilannya yang begitu santai dan bahagia, saya menarik kesimpulan bahwa tidak semua kaum papa (kurang mampu) itu hidup menderita.

Mendengar mottonya, saya menjadi tersentuh. ”Nikmati sajalah apa yang telah kamu peroleh dan syukurilah” itu adalah sekumpulan kata yang selalu ia ucapkan kepada saya ketika diwawancara. Mottonya menggambarkan bahwa setiap manusia seharusnya menikmati kehidupan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Karena jika kehidupan tidak dinikmati, kita takkan pernah puas. Kata-katanya itu sangat mengena bagi kehidupan saya yang sudah terbiasa dengan ketidakpuasan. Saya selalu ingin lebih dan lebih. Tak pernah puas dan bersyukur dengan yang telah saya peroleh sekarang.

Ia mengaku bahwa ia merasa cukup dan puas dengan penghasilan yang ia peroleh untuk menghidupi keluarganya; walaupun sepetinya penghasilan sebagai tukang kebun tergolong kecil. Bagaimanapun, hidup sekedar cukup tidak begitu menyenangkan. Tetapi, Pak Anen selalu bersyukur dan menikmati itu semua. Ia tak pernah berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Mendengar setiap kata-kata Pak Anen, saya terkadang menjadi malu sendiri. Saya, hidup di keluarga yang lebih dari cukup. Semua kebutuhan dapat terpenuhi dengan mudahnya; baik kebutuhan primer maupun sekunder. Tetapi, selama ini, saya tak pernah puas. Saya selalu berkeinginan untuk mendapatkan yang lebih dari yang saya dapatkan. Padahal seharusnya, saya bersyukur karena saya beruntung bisa punya kehidupan seperti ini yang lebih dari cukup. Ia juga berpesan agar kita selalu jujur dalam segala tindakan dan gunakanlah hati nurani dalam mengambil keputusan.


Marsha x3/22
Jujur dan Ikuti Hati Nurani

Nama beliau adalah Bapak Anen Suhandi, seorang bapak yang sudah berkeluarga yang sangat ramah dan baik hati. Melakukan wawancara dengan beliau telah membuka mata saya yang selama ini telah salah menilai apa yang dimaksud dengan kaum papa. Gaya beliau yang santai dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, membuat saya betah berlama-lama bersama beliau. Senyum beliau ramah dan tulus, jauh dari gambaran saya tentang kaum papa, yang seolah-olah selalu bertampang sedih dan muram.

Sebagai umunya manusia, kita tak pernah merasa puas. Menurut anggapan saya, hal itu jauh lebih terasa bagi mereka yang kurang mampu, karena kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah tak tercukupi, apalagi kebutuhan yang lain? Namun, pipi saya rasanya seperti ditampar, begitu mendengar celetukan polos Bapak Anen. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengurus taman sekaligus membantu guru ini tampaknya memiliki pandangan lain terhadap KEPUASAN. Beliau memiliki prinsip hidup untuk selalu menikmati apa yang sudah didapat, jadi, meskipun kadang terlihat susah, sebenarnya, Bapak ini sangat menikmati hidup.

Jujur saja saya bingung, bagaimana caranya kita bisa merasa puas? Orang kaya ingin semakin kaya, yang miskin ingin ikut kaya, bagaimana caranya kita bisa puas kalau semua kebutuhan kita seolah-olah ditantang oleh banyaknya produsen yang menawarkan sejumlah barang-barang praktis tapi dengan harga selangit? Yang terpenting adalah kejujuran dan gunakanlah hati nurani, nikmati sajalah semua yang ada dan jangan sampai orang lain tahu tentang masalah yang kita hadapi. Itulah pesan-pesan dari Bapak Anen untuk orang-orang yang masih tidak merasa puas akan kehidupannya. Mulai saat ini, saya akan mencoba untuk lebih menghargai apa yang sudah saya punya dan mencoba untuk menjadi Pak Anen-Pak Anen yang lain, yang selalu merasa puas di dalam kekurangannya.

Punya Nicola

Bu, Blog yang namanya Tukang Sayur yang Mampu Membuka Mata Saya itu punya Nicola Putri Djajadi/X3/24 ya, bu.. Maksih bu,,

Tukang Sayur yang Mampu Membuka Mata Saya




Betapa kagetnya saya mendengar kata-kata Pak Sigun yang diucapkan pada saya dan Milla pagi ini. Kata-kata Pak Sigun sungguh mengena di hati saya. Hal ini terjadi ketika saya bertanya pada Pak Sigun, "Jika sudah kaya, Bapak mau menjadi apa?" Dia hanya tersenyum dan menjawab, "Saya akan beramal". benar-benar jawaban yang amat sangat mengagetkan bagi saya. Seumur-umur, saya baru melihat seorang yang mau beramal jika punya banyak uang. Pak Sigun benar-benar berhati mulia. Mendengar jawaban itu, saya langsung merefleksikannya pada diri saya, apakah saya akan membantu yang tidak mampu jika saya sudah kaya? mengapa seorang Pak Sigun yang hanya berpenghasilan pas-pasan bisa berpikir seperti itu. Hal itu benar-benar mengagumkan untuk saya. Terkadang kita melihat orang miskin hanya sebelah mata. Kita hanya menganggap mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Termasuk berbohong menjadi orang cacat dan orang tidak mampu yang patut dikasihani di lampu merah. Jujur, saya sering beranggapan seperti itu. Tapi, setelah bertemu dengan Pak Sigun, pandangan saya berubah total. Pak Sigun, orang yang tidak mempunyai apa-apa, bisa mempunyai tujuan mulia seperti itu. Mengapa kita sebagai seorang yang berkucukupan tidak membantu sesama kita yang kesusahan? Pak Sigun adlaah orang yang miskin. Tapi kemiskinannya tidak membuat ia tidak putus asa. Justru Ia mencoba bersyukur dan tersenyum atas keadaannya yang serba kekurangan itu. Baginya, harta bukanlah segalanya. Yang penting bagi dirinya adalah ia bisa membahagiakan istri dan anaknya yang sedang menunggu di kampung. Yang penting ia bisa melihat anak dan istrinya tersenyum. Dan ia adalah manusia paling tulus yang pernah saya temui.

NOT An UnPeRFeCt LiFe










Berapa umur bapak sekarang?

#Sekitar 70 tahun

Apa yang biasa Bapak kerjakan sehari-hari?

#Mengumpulkan barang-barang bekas, besi bekas, kardus-kardus, koran

Sudah berapa lama Bapak bekerja seperti itu?

#Kurang lebih 5 tahun

Bapak tinggal di mana sehari-hari?

#Di tempat bos, di Basmol sana

Pendapatan Bapak cukup untuk memenuhi kebutuhan Bapak tidak?

#Ya, cukup, kecuali jika barang-barang bekas sedang sedikit.

Kenapa Bapak mau meninggalkan keluarga Bapak di desa dan merantau ke Jakarta?

#Untuk cari kehidupan dan membahagiakan keluarga

Bapak senang dengan pekerjaan Bapak sekarang?

#Tentu saja senang, kalau tidak, mengapa saya masih bekerja seperti ini


REFLEKSI

Saya sangat tidak menyangka dengan jawaban bapak pemulung itu yang menjawab ia senang akan pekerjaan yang digelutinya, padahal selama ini saya menyangka mereka terpaksa melakukannya karena tidak ada pekerjaan yang lain yang dapat mereka kerjakan.

Saya juga terharu karena ia yang telah lanjut usia masih bekerja untuk membahagiakan keluarganya.

Menurut saya, kemiskinan bukanlah hal yang perlu disesali, karena sebenarnya orang yang miskin secara materi adalah orang yang “kaya”. Sedangkan orang yang kaya secara materi mungkin saja adalah orang yang “miskin”. Semua adalah sama, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Segala sesuatu yang “miskin” dapat kita jadikan “kaya”.

Banyak orang yang “cukup” secara materi menganggap orang yang kekurangan adalah orang yang hina, patut dikucilkan dari masyarakat, tidak menghiraukan dan merendahkan kehadiran mereka. Itu adalah sesuatu yang salah! Kita semua ini sama di hadapan Tuhan. Kita seharusnya saling membantu satu sama lainnya, bukan malah saling membenci. Kita yang cukup bahkan berlebih harus berbagi dengan yang kekurangan, jangan hanya melihat dan cukup di mulut saja, “Kasihan mereka.” tapi mereka tidak mewujudkannya dalam bentuk tindakan.

Walaupun wawancara itu singkat, tapi saya merasa itu sangat berarti bagi saya. Saya juga bersyukur kepada Tuhan, karena saya selama hidup ini tidak pernah kekuarangan sesuatu apapun. Dengan wawancara ini juga, saya mempunyai harapan pada diri saya sendiri, saya harus bisa “melihat” banyak orang yang kekurangan dan membantu mereka. Saya juga mendapat pelajaran : apapun yang kita kerjakan, haruslah dikerjakan dengan sepenuh hati dan tulus, tidak peduli apa hasilnya nanti.

Tegarlah dalam menjalani kehidupan ini, kadang di atas, kadang di bawah, tapi tetaplah beriman kepadaNya, karena tanpaNya kehidupan ini tak ada artinya. Kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi diri sendiri. Bersyukurlah atas semua yang kita punya.


OLEH:


MARLENE X3/21

Tugas Religiositas Maria Dan Jennifer

SEBUAH PERJUANGAN
by: Jennifer/11 dan Maria Tarisa/20

Indah adalah seorang baby sitter yang sudah bekerja selama kurang lebih 3 tahun, sejak dirinya lulus dari bangku SMP. Menginjak usianya yang kini baru 18 tahun, Indah bukanlah orang yang suka meratapi nasib. Walaupun hidup serba apa adanya, dan terkadang malah kekurangan, namun Indah selalu berjuang. Dia tidak pantang menyerah dan terus berusaha.


Indah bukan tipe orang yang suka menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak berguna. Ia lebih suka menabung uangnya di bank. “ Kan kalau ditabung nanti saya dapat bunga, jadi lebih banyak juga uang saya,” uajr Indah yang masih tinggal bersama dengan orang tuanya ini. Indah selalu menerapkan hidup hemat dalam kesehariannya. Daripada digunakan untuk membeli barang-barang yang tak perlu, lebih baik ditabung di bank, ungkap Indah.

Ketika kami tanyakan apakah penghasilannya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Indah berkata terkadang cukup, terkadang lebih, tapi lebih sering kurang. Indah menyampaikan kepada kami bahwa semuanya itu tergantung dari majikannya juga. Kalau majikannya memberi uang untuk dia jajan, dia tidak menggunakannya. Uang tersebut ia tabung, dan lama-lama pun jadi banyak, dan bisa diberikan kepada orang tuanya.

Walaupun sampai saat ini Indah masih hidup serba ngepas, namun dia tak pernah berhenti untuk berjuang. “ Saya selalu berusaha keras dan ebrjuang dalam menjalani hidup. Saya yakin suatu saat pasti saya bisa hidup bahagia,” ujar Indah kepada kami. Dari sinilah kami melihat betapa besar semangat Indah dalam menjalani hidup. Dan dari sini pula kita belajar untuk lebih memaknai hidup ini.

Jennifer, X3-11

Refleksi Oleh:

1. Jennifer /11


Refleksi Religiositas Mengenai Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang sering sekali ditemukan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih banyak yang belum memiliki pekerjaan. Hampir di setiap lampu merah, pasti dijumpai pengamen, dari anak kecil hingga orang dewasa. Saya bertanya-tanya, mengapa mereka semua tidak berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi hanya mengemis belas kasihan orang lain untuk memberinya uang? Sebab setiap kesuksesan selalu dimulai dari usaha orang itu untuk mencapai kesuksesannya.

Saya cukup bingung ketika harus mewawancarai seseorang. Masalahnya dalah tidak ada orang yang saya kira cocok untuk diwawancarai, semuanya sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, entah itu sebagai tukang mie ayam, entah sebagai penjual majalah. Akhirnya, saya menemukan seseorang yang sedang duduk, memakai seragam berwarna putih yang dipermanis dengan garis merah jambu. Ya, gadis itu adalah Indah, seorang babysitter.

Kesan saya setelah saya mewawancarai Indah adalah bahwa saya sangat terkesan dengan perjuangan yang dilakukan oleh Indah, padahal ia baru berumur 18 tahun. Bahkan, di usia seperti itu, seharusnya ia masih harus melanjutkan kuliah, tetapi apa mau dikata, kebutuhan materilnya belum cukup untuk melanjutkan pendidikan. Meskipun begitu, Indah tetap mempunyai suatu perjuangan yang patut dibanggakan. Setelah ia lulus SMP, Indah langsung bekerja sebagai babysitter untuk membantu kebutuhan keluarganya. Bisa dikatakan, Indah berperan sebagai tulang punggung keluarganya. Ia sangat berani untuk bekerja di Jakarta, yang pastinya merupakan kota yang sangat asing baginya. Apabila saya menjadi Indah, saya tidak berani untuk bekerja seperti Indah, merantau ke Jakarta, yang terkenal dengan banyaknya tindakan kriminal. Dan ternyata, wanita pada saat ini tidak kalah dengan pria. Wanita tidak hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengurus suami dan anaknya, tetapi wanita bisa memeperjuangkan haknya untuk bekerja.

Saya pun merasakan bahwa kehidupan saya ini jauh dari sempurna. Banyak sekali hal-hal yang saya lakukan yang menunjukkan bahwa saya tidak puas dengan kehidupan saya ini, padahal, saya memiliki keluarga dan teman-teman yang begitu mencintai saya, serta kehidupan yang tercukupi.

Dengan pengalaman ini, saya ingin menarik kesimpulan bahwa kehidupan setiap manusia tidak ada yang sempurna, pasti selalu ada suka dan duka. Setiap manusia diciptakan dengan kehidupan mereka masing-masing, baik itu kaya, miskin, sengsara, bahagia, dan sebagainya. Tetapi, yang pasti dan harus diingat adalah roda kehidupan terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah, tidak ada kehidupan yang sempurna, dan Tuhan pasti memiliki rencana bagi setiap insan manusia di balik penderitaan umat-Nya. “Jangan berikan ikannya, tetapi berikan kailnya,” bahwa setiap orang harus berjuang untuk bahagia, bukan hanya mengemis belas kasihan orang lain. Dan mulai saat ini, saya berjanji untuk menerima segala sesuatu yang diberikan pada saya, entah itu baik ataupun buruk dan berusaha untuk menarik hikmah di balik semua ini; lebih mencintai kehidupan ini; saya juga ingin lebih dewasa dan menghargai orang-orang di luar kehidupan saya, bahwa mereka semua membutuhkan uluran tangan saya, tidak, tepatnya uluran tangan kita semua.

2. Maria Tarisa /20

I AM NOT A POOR PERSON
-reflection from heart to heart-

Sebuah kalimat yang terus saya ucapkan pada diri saya sendiri, ketika saya melihat ke sekeliling saya, I AM NOT A POOR PERSON. Saya bukanlah seorang yang miskin jika dibandingkan dengan mereka yang hidup serba kekurangan, tinggla di kolong jembatan, beratapkan tumpukan jerami yang setiap saat dapat terguncang bencana, entah itu badai maupun angin topan. Tapi mengapa saya selalu menganggap saya ini adalah orang miskin? Bukankah dibandingkan mereka, saya ini sebenarnya hidup sangat berkecukupan?

Miskin. Sebenarnya apakah arti dari kemiskinan itu sendiri? Adakah selama ini saya mengartikan kemisikinan dengan benar? Mungkin dalam benak saya miskin adalah tak punya uang, tak bisa membeli es krim, atau mungkin tak bisa shopping ke butik langganan. Tapi yang sebenarnya terjadi bahwa kemiskinan bukanlah itu semua. Kemiskinan tak sekedar tak punya uang untuk belanja. Kemiskinan lebih kompleks daripada itu. Dimana kalian benar-benar butuh perjuangan keras untuk menghadapi kehidupan dunia. Dimana kalian butuh sejuta keringat untuk membiayai kehidupan ini.

Akan tetapi, tak selamanya miskin itu hanya soal uang. Miskin bisa dalam banyak hal. Miskin harta, miskin iman, miskin teman, bahkan miskin cinta. Jadi tak semuanya melulu tentang uang. Ya walaupun memang kemiskinan itu dekat sekali dengan yang namanya uang. Orang miskin selalu dikatak hidup apa-apa serba kekurangan. Mau ini susah, mau itu susah. Ya, memang tidak salah sih, tapi tak selamanya begitu juga. Kalau orang miskin uang mungkin begitu kejadiannya. Tapi kalau orang miskin cinta ya beda lagi.

Saya kadang bertanya-tanya, kok ya orang miskin tuh sanggup hidup kayak begitu. Tunggang langgang, ndak ngerti harus apa. Tapi kok ya mereka msih aja betah hidup begitu. Kayak ndak oernah putus asa dalam menjalani kehidupan. Bahkan mereka lebih bersemangat dibanding orang berduit. Kan aneh, orang berduit ndak punya semangat dalam menjalani hidup, padahal semuanya serba cukup, tapi orang miskin selalu semangat, padahal semuanya serba kurang. Bahkan orang miskin yang tak punya apa-apa hidup lebih bahagia dibanding orang kaya. Barangkali orang miskin punya pandangan hidup ya hari ini. Pikirin aja dulu hidup untuk hari ini. Untuk hari selanjutnya ya nanti saja.

Saya sendiri kalau jadi orang susah seperti mereka, mungkin sudah dari dulu ambil jalan pintas. Mana tahan hidup dibawah terik matahari, tidur diterpa angin malam dingin. Dih, mending mati aja sekalian. Tapi bukan itu yang ada dalam pikiran mereka. Selagi masih ada kesempatan untuk hidup, ya jalani. Nikmati saja semuanya. Mau susah mau senang, jalani saja dengan senang hati, dan semuanya akan berlalu dengan baik. Mereka selalu punya harapan demi harapan dalam hidup. Dan tak sekedar harapan, mereka juga berusaha untuk itu.

Ini semua membuka hati saya. Kemana aja neng dari kemaren? Kok baru sekarang sadar kalo hidup ini tuh indah. Ya, saya sendiri heran. Kenapa saya baru menyadarinya sekarang. Ketika saya melihat begitu banyak orang diluar sana berjuang menjalani hidup, kok ya baru sadar sekarang kalau sebenarnya hidup ini indah. Tapi ya saya pikir daripada tidak menyadari sama sekali, ya mending saya sadar sekarang. Saya sadar betul perjuangan saya selama ini kalah dibanding perjuangan mereka. Mereka selalu bekerja keras tak kenal lelah. Tapi saya disini hanya malas-malasan. Mereka tak pernah meratapi nasib, tapi saya selalu meratapi nasib. Kok ya rasanya ironis sekali melihat mereka yang tak dilengkapi dengan kemampuan yang memadai tapi bisa berhasil dengan usaha dan harapan mereka, sementara kita yang semuanya terpenuhi dan memadai malah sering kali gagal.

Dari situ saya belajar untuk menjadi pribadi yang baru. Menjadi orang yang lebih menghargai hidup, dan tidak menyia-nyiakan apa yang saya punya. Sebab roda kehiduoan terus berputar, dan kita tak akan pernah tau kapan saatnya kita diatas, dan kapan saatnya kita dibawah. Yang bisa kita lakukan adalah terus berjuang dalam menjalani kehidupan ini. Dan selalu memberikan yang terbaik.

Sebagai penutup dari refleksi ini saya ingin menceritakan tentang sebuah kisah yang saya dengar beberapa waktu lalu di TV. Ada seorang ibu dan anak yang hidup serba kekurangan. Mereka harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Lalu sang anak bertanya pada Ibunya,” Bu kita ini miskin ya?” Namun si Ibu mengelus lembut rambut anaknya, dan berkata, “ Siapa yang bilang kita ini miskin Nak? Selagi kita masih punya cinta untuk dibagikan kepada sesama, kita tidaklah miskin.” Dari cerita ini saya juga ingin mengajak Anda sekalian untuk bercermin. Sebenarnya selagi kita masih punya sesuatu untuk dibagi kepada sesama kita, ya walau bukan materi, berarti kita tidak miskin. Jadi belajarlah untuk saling berbagi. Dan niscaya tidak akan ada orang miskin di dunia ini.



Thursday, April 24, 2008

Kehidupan Sang Tukang Sayur


Pada hari ini, tanggal 25 April 2008, kami mewawancarai seorang tukang sayur bernama Sigun. Pria setengah baya ini kami temui di komplek perumahan Taman Cikas, Bekasi. Setelah kami bingung berkeliling kota Bekasi yang panas dan luas, akhirnya kami menemukan seseorang yang tepat, yaitu Pak Sigun. Pertama kali kami melihat beliau, kami merasa dia adslah orang yang ramah dan ternyata benar anggapan kami tersebut. Pak Sigun adalah orang yang sangat rajin dan pekerja keras. Beliau telah memulai usahanya sebagai tukang sayur sejak tahun 1997 sampai sekarang (11 tahun). Pria yang berasal dari Pekalongan ini, mengatakan bahwa ia ke Jakarta untuk merantau untuk menghidupi keluarganya. Menurutnya kemiskinan adalah tidak punya apa-apa,kekurangan, seperti kekurangan makan, tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup. Kami pun iseng-iseng bertanya pada beliau, apa jadinya jika dia menjadi orang kaya. Beliau menjawab, "Jika saya menjadi orang kaya, saya akan beramal." Kami pun langsung terhenyak setelah mendengar jawaban itu. Biasanya, orang-orang jika ditanya seperti itu, maka mereka akan menjawab akan membeli mobil, rumah, dan lain-lain. Tapi berbeda dengan Pak Sigun. Hatinya begitu mulia. Penghasilannya setiap hari rata-rata Rp.30.000,00 (kalau untung). Kalau tidak untung, Pak Sigun hanya mendapat sesuai modal yang dikeluarkan. Setiap hari ia pergi ke pasar Kranji pada pukul 02.00. Kami pun kaget mendengarnya. Kami bingung ia bangun jam berapa jika ia harus pergi pagi-pagi seperti itu. tapi, wajahnya tidak memancarkan kelelahan sedikit pun. Ia berkeliling sejak pukul 06.00 sampai pukul 12.00. Banyak suka dukanya menjadi tukang sayur. Meski pun banyak dukanya, dia menjadi bahagia dengan kehidupannya sekarang ini. Sebelumnya, ia pernah menjadi tukang jahit di Grogol. Tapi, ia tidak merasa senang bekerja dibawah orang lain, akhirnya, dia memutuskan untuk bekerja sendiri sebagai tukang sayur.
Menurut kami, kemiskinan yang dialami oleh bapak Sigun ini adalah contoh kemiskinan struktural karena kemiskinan yang dialaminya bukan karena faktor dirinya yang malas ataupun karena bencana alam. Kemiskinan yang dialami oleh pak Sigun adalah kemiskinan yang disebabkan oleh keadaan ekonomi negara kita yang makin lama makin melemah saja.
Satu hal yang kami sangat kagumi dari Pak Sigun adalah, dia tetap bisa bersyukur meski pun keadaannya tidak sejahtera. Ia beranggapan bahwa harta bukan segalanya. Yang penting, adalah dia bisa membuat keluarganya bahagia.

Nicola Putri Djajadi/24/X3
Quamilla Raverla/26/X3

Kehidupan Serba Alhamdulilah





Setiap pagi rasanya Pak Nali hanya duduk-duduk saja di depan rumah saya. Sambil termenung ditutupi tumpukan sandal jualannya itu, rasanya hidup baginya tidak ada tuntutan, tidak ada beban, walaupun penghasilan hanya kurang lebih Rp 30.000,00 seharinya. Walaupun sering berjualan di Jakarta, terutama Jakarta Selatan (di daerah Bintaro, Pondok Indah, dan sekitarnya) sebenarnya pak Nali ini tinggal di Bogor, di Desa Kalong.
"Iya, di Desa situ," katanya sambil menunjuk-nunjuk ke belakang, "di Desa Kalong, di deket situ lho."
Keluarganya yang terdiri dari tiga orang anak dan seorang istri juga tinggal di Bogor. Sepasang suami istri ini memiliki tiga anak tercinta, dua laki-laki dan satu perempuan. Yang paling tua perempuan, masih berumur sembilan tahun. Tiga tahun setelah anak tertuanya lahir, mereka dikaruniai lagi dua anak laki-laki, yang sekarang berumur 6 tahun dan yang paling kecil masih berumur dua tahun. Penghasilan yang didapat dari tiga pasang sandal setiap harinya saya pikir tidak akan cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya. Tetapi rupanya ketika ditanya tentang pendidikan anak-anaknya, Pak Nali menjawab,"Iya, anak-anak saya sekarang sudah saya sekolahkan kok," katanya bangga.

Setiap pagi Pak Nali berangkat dari rumahnya yang ada di Bogor itu, menelusuri jalan-jalan sambil membawa pikulan yang terbuat dari bambu sederhana dan berpuluh-puluh sandal setiap harinya. Sampai di daerah 'tongkrongannya' Pak Nali istirahat sebentar. Pria berumur 35 tahun itu rupanya sudah melakukan kegiatan berjualan itu selama bertahun-tahun.
"Alhamdulilah semuanya sampai sekarang masih bisa ditangani," komentarnya tentang pekerjaannya itu.
"Tapi dengan penghasilan begitu..?" Saya benar-benar bingung, sepertinya kehidupan tidak bisa hanya ditopang uang segitu setiap harinya.
"Ya cukup nggak cukuplah..." kata Pak Nali sambil garuk-garuk kepala.
Saya dan Pak NaliPak Nali rupanya rajin menabung. Walaupun penghasilan untuk keluarganya hanya bersumber dari Pak Nali sendiri, dengan usaha hidup sederhana dan serba 'alhamdulilah', keluarga Pak Nali bisa terus hidup berkecukupan. Kadang-kadang kalau penghasilan lebih dari Rp 50.000,00, yang Rp 20.000,00 lagi ditabung., selain untuk sekolah juga untuk keperluan yang lain-lain, "Siapa tahu. Kan juga nggak ada salahnya menabung, apalagi kalau seperti saya begini."

Pak Nali dulunya mengenyam pendidikan yang cukup pula.
"Saya sih cuma ikut sekolah madrasah itu lho," jawabnya ketika ditanya tentang pendidikannya. Jujur saja saya nggak enak untuk bertanya lebih lanjut. Ketika beralih ke topik cita-cita, Pak Nali langsung buang muka.
"Ahhh, nggak ada itu mah," katanya, malu-malu.
"Yah nggak mungkin Pak. Saya aja pengen jadi pelukis," saya bilang ke Pak Nali, berusaha untuk meraba-raba perasaannya.
"Lah tapi saya nggak punya kelebihan apapun. Nggak ada bakatnye," kata Pak Nali sambil garuk-garuk kepala lagi.
"Ya sama dong Pak, sini juga ga ada bakat jadi pelukis. Cuma pengen-pengen aja..." saya bilang sambil merendahkan diri.
Sandal sederhana Pak NaliSepertinya tidak mungkin, Pak Nali yang sekarang berjualan sandal setiap harinya itu dari dulu tidak memiliki cita-cita. Ketika ditanyai lagi, jawabannya ngalor-ngidul kemana-mana, lalu malah terdiam. Saya akhirnya ikutan diam, bingung mau bertanya apa. Akhirnya saya membeli sandal hitam yang dijual Pak nali, hanya Rp 10.000,00 satu pasangnya. Sambil pilih-pilih ukuran kaki yang pas, kami ngobrol sebentar tentang sandal sederhana jualannya itu. Katanya, teman Pak Nali pembuat sandal, penghasilannya berjualan nanti dibagi dua.

Lalu saya akhiri wawancara kali itu dengan teh manis buatan rumah. Mbak yang ikut menemani saya wawancara (walaupun hanya di depan rumah) mengambil foto kami berdua. Rasanya wawancara itu masih bisa digali lagi.Walaupun penuh rasa enggan dan bingung, saya pun mengucapkan terima kasih dan masuk ke rumah, membiarkan Pak Nali menikmati istirahat siang itu dengan teh hangat yang manis.

Tidak bisa dibayangkan saya harus hidup setiap hari dengan batas nominal uang yang jumlah belakangnya sebatas puluhan ribu. Boro-boro puluhan, ratusan saja rasanya masih kurang. Ke sekolah yang jaraknya berkilo-kilometer jauhnya memerlukan bensin. Makan juga kalau tidak sesuai selera suka terpaksa, alhasil makanan suka terbuang sia-sia. Bertemu dengan Pak Nali membuat saya sadar, bahwa kehidupan saya sehari-harinya yang penuh keborosan ini tidak pantas untuk orang seperti saya, yang hidupnya sudah serba terpenuhi dengan usaha seminimal mungkin.
Kemiskinan, seperti yang banyak orang bilang, salah orang itu sendiri. “Yah mungkin memang tidak mau bekerja, orangnya pemalas”. Saya tidak setuju. Saya yakin, orang seperti Pak Nali kalau memang pembelinya ada di Jakarta ia rela pergi ke Jakarta setiap harinya untuk berjualan. Beralaskan sandal, berbekal harapan dan determinasi.
Menurut saya, orang seperti Pak Nali menjadi miskin karena adanya orang kaya yang pelit, tidak mau berbagi, tidak mau tahu. Selain faktor keturunan dan faktor keterbatasan internal lainnya, sebenarnya jika dilihat-lihat lagi, faktor penyebab utama adalah kurangnya rasa peduli. Bila saja rasa kepedulian terhadap sesama itu dijalin sejak dini. Juga hilangkan rasa eksklusif, yang merasa dirinya ‘tidak level’ bergaul dengan anak-anak yang keadaan ekonominya tidak sepantaran dengannya.

Nilai-nilai yang didapat banyak, walaupun hanya beberapa menit wawancaranya. Yang paling berkesan adalah pikiran ini ketika selesai mewawancara Pak Nali: Orang seperti Pak Nali saja mau terus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak, walaupun kehidupannya pas-pasan. Saya seharusnya dengan berkat yang melimpah ini bersyukur untuk setiap karunia yang Tuhan telah beri dengan gratis. Saya belajar bahwa hidup itu harus dihargai apa adanya. Apapun bentuknya itu kita harus bersyukur dan menjalani kehidupan kita sebaik mungkin, penuh usaha, harapan, dan rasa percaya.
Selain itu, saya juga belajar untuk selalu hidup sederhana, serba apa-adanya. Hidup berfoya-foya sama saja seperti merendahkan usaha hidup orang seperti Pak Nali. Selain itu, kita juga harus peduli terhadap sesama yang masih kekurangan. Saya sendiri juga telah ikut program-program sosial memberantas kemiskinan, baik di dalam maupun di luar sekolah. Dan yang paling penting lagi berdoa, selain bersyukur, juga mendoakan korban-korban kemiskinan.